Profil

Senin, 06 Mei 2013

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 19 TAHUN 2013

Peraturan mengenai tunjangan jabatan fungsional penyuluh kehutanan, tunjangan tersebut telah disesuaikan dengan beban kerja dan tanggungjawab pekerjaan, diharapkan dengan perubahan tunjungan jabatan fungsional penyuluh kehutanan tersebut dapat semakin meningkatkan mutu, prestasi, produktivitas kerja dan pengabdian dari para penyuluh kehutanan.

Sabtu, 26 Mei 2012

SENGKUBAK


Sengkubak [pycnarrhena cauliflora (miers) Diels] tumbuhan ini menjadi istimewa karena digunakan sebagai penyedap rasa alami yang sudah cukup terkenal di kalangan etnis dayak dan melayu di kabupaten sintang.  Pada masa serba instan dan berbahan pengawet seperti saat ini  selayaknya penyedap alami dari tumbuhan sengkubak ini dapat mejadi perhatian lebih besar pada masa-masa yang akan mendatang, mengingat penyedap modern banyak mengandung zat kimia sintetik yang dapat merusak kesehatan manusia.
Sengkubak merupakan salah satu plasma nutfah yang khas dan bernilai penting karena di manfaatkan sebagian masyarakat tidak hanya untuk penyedap rasa tetapi juga untuk pengobatan. Namun sayangnya pemanfaatan sengkubak tidak diturunkan ke generasi muda sekarang ditambah lagi konversi lahan hutan telah membuat jumlah dari tumbuhan sengkubak ini semakin berkurang.


A.      Botani


Sengkubak merupakan golongan liana yang termasuk dalam family Menispermaceae, berdasarkan identifikasi jenis yang dilakukan, maka secara teksonomi dapat diklasifikasikasn sebagai berikut (Backer & Brink 1963):
Kingdom           : Plantae
Divisio              : Magnoliophyta
Kelas                : Liliopsida
Ordo                : Ranunculales
Famili               : Menispermaceae
Genus               : Pycnarrhena
Spesies             : Pycnarrhena cauliflora (Miers.) Diels
Nama Lokal       : Sengkubak

B.    Penyebaran
Pengetahuan mengenai penggunaan sengkubak sebagai bumbu atau penyedap telah lama dimiliki oleh masyarakat pedalaman Kalimantan Barat baik pada suku dayak maupun suku melayu, terutama pada daerah hulu Kalimantan Barat yakni di Kabupaten Sanggau, Sekadau, Sintang, Melawi dan Kapuas Hulu
Penyebaran sengkubak  (Pycnarrhena cauliflora) sulit untuk di uraikan karena sangat minimnya literature yang mendukung. Di Kalimantan Barat sengkubak ditemui pada ketinggian 100-150 m dpl di habitat dataran rendah dan berbukitan. (berdasarkan studi pustaka dengan menelusuran specimen yang dikoleksi di Herbarium LIPI Cibinong, 2007).
Pada penelusuran specimen tersebut diketahui sengkubak dapat hidup pada ketinggian 80-700m dpl. Pada habitat dataran rendah, perbukitan dan pada habitat hutan sekunder. 
Tanaman sengkubak kadang tumbuh di kebun karet masyarakat.

D.      Budidaya
Pemanfaatan yang selama ini dilakukan dan semakin tinggi tekanan terhadap hutan alam, tanpa diikuti dengan pembudidayaan akan menambah ancaman bagi keberadaan sengkubag di hutan alam.
Budidaya sengkubak sampai saat ini belum dilakukan oleh masyarakat, dikarenakan tanaman sengkubak pertumbuhannya sangat lambat dan belum ada teknis budidaya sengkubak yang pernah dilakukan.
Sejak dahulu masyarakat terbiasa memenuhi kebutuhan sengkubak dengan memanennya langsung dari hutan.

Sumber:
Kajian Etnobotani dan Aspek Konservasi Sengkubak [Pycnarrhena cauliflora(Miers.) Diels.] oleh Utin Riesna Afrianti.

E.       Manfaat Sengkubak
a.   Penyedap Rasa Masakan Secara Alami.
  

 Pengunaan sengkunbak sebagai bahan penyedap rasa alami merupakan salah satu bentuk pemanfaatan yang khas terhadap suatu jenis tanaman yang dilakukan oleh etnis Dayak dan Melayu kabupaten sintang. Pengunaan tanaman sengkubak sebagai penyedap rasa tumbuh dan berkembang dari pengalaman empiris yang diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan tradisional adalah salah satu kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya.
Bagian tanaman sengkubak yang digunakan sebagai penyedap rasa alami yakni untuk menambah rasa manis pada masakan adalah daun.



b.   Pengobatan
Sengkubak selain dapat digunakan sebagai penyedap rasa juga dapat dijadikan obat tradisional dan memiliki nilai magis oleh sebagian masyarakat, hal ini masih terbatas pada komoditas masyarakat.
Manfaat Sengkubak sebagai obat tradisional hanya sebagai pengobatan luar seperti  untuk :
1.    Jaram (kompres menurunkan panas), 
2.    Tapal (Daun Sengkubak dan beberapa campuran lainnya yang telah ditumbuk diletakkan dibagian tubuh yang sakit) untuk pengobatan kembung.
3.    Demam.

F.        Pengolahan
Teknis Pengolahan agar dapat disimpan dan digunakan dalam waktu cukup lama yaitu :
1.    Daun sengkubak yang baru dipetik dibersihkan.
2.    Daun ditumbuk halus atau dipotong kecil-kecil.
3.    Hasil dari proses penumbukan atau potongan tersebut dikering anginkan.
4.    Serbuk daun sengkubak kemudian disimpan ke dalam wadah bersih (botol)



Disusun Oleh :
JUMILAH, S.Hut
Penyuluh Kehutanan Kecamatan Dedai



Jumat, 16 Maret 2012

WIDYAWISATA PENYULUH KEHUTANAN KABUPATEN SINTANG KE KABUPATEN SANGGAU

A.     LATAR BELAKANG
Sesuai dengan perkembangannya paradigma penyuluhan kehutanan bergeser dari sekedar alih teknologi dan informasi kepada proses pemberdayaan masyarakat ke arah kemandirian. Hal tersebut dapat dijelaskan dalam UU Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, yang menyatakan bahwa  penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama dan pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Berdasarkan KEPMENHUT Nomor : 272/kpts.II/2003 Tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Penyuluh Kehutanan dan Angka Kreditnya,  Widyawisata merupakan metoda bagi penyuluh kehutanan berupa kegiatan perjalanan bersama untuk belajar dengan melihat suatu penerapan teknologi dalam keadaan yang sesungguhnya, dengan prinsip belajar dan melihat.

B.      MAKSUD DAN TUJUAN
1.     Maksud :
Maksud dari kegiatan ini adalah Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Penyuluh Kehutanan Kabupaten Sintang dalam menerapkan teknologi aplikatif bidang Kehutanan.
2.    Tujuan :
Tujuan dari kegiatan Widyawisata ini adalah :
a.    Mengembangkan persatuan Penyuluh dalam rangka memotifasi  kinerja penyuluh.
b.    Membekali pemahaman bagi Penyuluh tentang penerapan teknologi kehutanan.
c.    Melihat dan belajar tentang Inokulasi gaharu.
d.    Melihat dan belajar penangkaran lebah madu alam.


C.      WAKTU DAN LOKASI  PELAKSANAAN
Widyawisata akan dilaksanakan selama 2 hari dari tanggal 7 - 8 Maret 2012
Lokasi sasaran pelaksanaan Widyawisata dilakukan pada KUP Karunia Jaya Mandiri Farm di Dusun Sengorit Desa Maringin Jaya Kecamatan Parindu Kabupaten Sanggau. yang bergerak di bidang usaha Budidaya dan Inokulasi Gaharu, Usaha lebah Madu Lokal.



Jumat, 09 Desember 2011

TEKNOLOGI KONSERVASI AIR DENGAN SUMUR RESAPAN


I.       Pendahuluan
a.       Latar Belakang
  Air tanah merupakan sumber air yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup yang perlu dijaga kelestariannya. Perubahan tata guna lahan di sebagian besar permukaan bumi sebagai konsekuensi dari perkembangan penduduk dan perekonomian masyarakat akan menurunkan kemampuan tanah untuk meresapkan air. Konversi lahan tersebut mengakibatkan aliran permukaan (run-off) menjadi tidak terkendali yang pada akhirnya meningkatkan terjadinya erosi tanah dan mengakibatkan defisit air bersih. Hal ini bisa dilihat dengan semakin banyaknya tanah yang tertutupi beton, aspal, dan bangunan lainnya yang tidak meresapkan air. Penurunan daya resap tanah terhadap air juga dapat terjadi karena hilangnya vegetasi penutup permukaan tanah. Oleh karena itu diperlukan upaya konkret untuk mencegah terjadinya kelangkaan sumber daya air.
        Pembuatan sumur resapan merupakan sebuah rekayasa teknik konservasi air berupa bangunan yang dibuat menyerupai sumur gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi untuk menampung air dan meresapkannya ke dalam tanah (Permenhut No. P.03/MENHUT-V/2004 tanggal 22 Juli 2004). Prinsip dasar konservasi air ini adalah mencegah atau meminimalkan air yang hilang sebagai aliran permukaan dan menyimpannya secara maksimal ke dalam tubuh bumi. Atas dasar prinsip ini maka air yang mengalir akan diresapkan kembali sebagai cadangan air tanah untuk dimanfaatkan melalui sumur-sumur atau mata air.

b.      Tujuan
-          Pelestarian sumber daya air tanah dan perbaikan kualitas lingkungan
-          Membantu menanggulangi kekurangan air bersih
-          Mengurangi Run-off (limpasan permukaan) dan erosi tanah

c.       Manfaat
-          Sumur resapan mempunyai manfaat untuk menambah jumlah air yang masuk ke dalam tanah sehingga dapat menjaga kesetimbangan hidrologi air tanah.
-          Mengurangi limpasan permukaan sehingga dapat mencegah banjir.
-          Mempertahankan tinggi muka air tanah


II.    Pembuatan Sumur Resapan
a.       Persyaratan Lokasi
-          Lahan yang datar, tidak berlereng, curam atau labil
-          Muka air tanah di lokasi tersebut dalam dan jauh dari sumber air permukaan
-          Daerah pertanian yang mengalami kekurangan air
-          Tingkat kepadatan penduduk di sekitar lokasi yang tinggi
-          Tingkat  erosi tanah dan aliran permukaan/Run-off yang tinggi


b.      Bahan dan Alat
1.      Bahan
-          Pipa paralon
-          Pasir
-          Semen
-          Batu bata/buis beton
-          Ijuk
-          Batu kerikil/koral
2.      Peralatan
-          Alat pertukangan
-          Meteran
-          Kayu/Bambu

c.       Pembuatan Sumur Resapan
1.      Komponen Sumur Resapan
-          Saluran air sebagai jalan air yg akan dimasukkan ke dalam sumur
-          Bak kontrol yang berfungsi untuk menyaring air sebelum masuk sumur resapan.
-          Pipa pemasukan atau saluran air masuk.
-          Sumur Resapan
-          Pipa pembuangan yang berfungsi sebagai saluran pembuangan jika air dalam sumur resapan sudah penuh.

2.      Sketsa Sumur Resapan


 





 







3.      Cara Pembuatan Sumur Resapan
Cara pembuatan sumur resapan air pada rumah dengan talang air adalah sebagai berikut:
ü  Buat sumur dengan diameter 80-100 cm sedalam 1,5 - 2,0 m namun tidak melebihi muka air tanah.
ü  Untuk memperkuat dinding tanah, gunakan buis beton, atau pasangan bata kosong (tanpa plesteran).
ü  Buatlah saluran pemasukan yang mengalirkan air hujan dari talang ke dalam sumur resapan dengan menggunakan pipa paralon.
ü  Buatlah saluran pembuangan dari sumur resapan menuju parit yang berfungsi membuang limpahan air saat sumur resapan kelebihan air. Ketinggian pipa pembuangan harus lebih tinggi dari muka air tanah tertinggi pada selokan drainase jalan tersebut.
ü  Isi bagian dasar sumur resapan air dengan kerikil dan ijuk masing-masing setebal ± 15 cm.
ü  Tutup bagian atas sumur resapan dengan plat beton. Di atas plat beton ini dapat ditimbun dengan tanah.

 
4.      Biaya Pembuatan Sumur Resapan
Berikut ini adalah perkiraan anggaran pembuatan untuk 1 (satu) unit sumur resapan;

No
Uraian
Satuan
Jumlah Kebutuhan
Harga satuan
(Rp)
Harga total
(Rp)
1.
Buis Beton
Spesifikasi 1 buis beton :
Diameter :  100 cm
Panjang   :    50 cm
Tebal       :     6 cm
Pcs
3
100.000
300.000
2.
Upah
HOK
2
100.000
200.000
3.
Koral/batu kerikil
Kg
20
5.000
100.000
4.
Ijuk
Kg
10
5000
50.000
5.
Pipa paralon
btg
4
200.000
800.000
6.
Finishing
HOK
2
50.000
100.000

JUMLAH
1.550.000


III.             Penutup
Pembangunan sumur resapan adalah salah satu upaya pengisian air tanah secara artifisial untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas air tanah yang saat ini semakin terancam akibat eksploitasi air tanah, erosi dan kerusakan hutan. Dengan adanya pembangunan sumur resapan khususnya di daerah padat penduduk dan lahan pertanian, maka diharapkan air hujan dapat diresapkan dan disimpan sementara di dalam tanah/aquifer. Air tersimpan kemudian dapat dimanfaatkan kembali untuk pertanian dan sumber air masyarakat dalam rangka mengantisipasi defisit air bersih pada masa yang akan datang.

IV.      Daftar Pustaka

Indriatmoko, R. H dan Wahjono, H. D. 1999. Teknologi Konservasi Air Tanah dengan Sumur Resapan. Kelompok Teknologi Pengelolaan Air Bersih, BPPT, Jakarta.

------------------. 2004. Permenhut No. P.03/Menhut-V/2004 tanggal 22 Juli 2004, Tentang Pedoman dan Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan, Departemen Kehutanan, Jakarta.

-----------------. 2008. Permenhut No. P.70/Menhut-II/2008 Tentang Pedoman Teknis Rehabilitasi Hutan dan Lahan, Departemen Kehutanan, Jakarta.

----------------. 2010. Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan. Direktorat Pengelolaan Air, Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air, Departemen Pertanian, Jakarta.